Selasa, 25 April 2017

Miss Peregrine's Home for Peculiar Children



Kamu yang suka buku, pernahkah merasakan bahwa suatu buku seperti harus 'bertemu' dengan kita, buku itu ada karena ada tugas dunia yang harus kita selesaikan?

Inilah yang aku pikir tentang Miss Peregrine's Home for Peculiar Children - Rumah Miss Peregrine untuk Anak-Anak Aneh

Bermula ketika aku menemukan buntalan, eh, tumpukan, eh... apapun deh yang jelas itu bulat diikat-ikat yang ternyata isinya kumpulan foto-foto lama keluarga. Foto-foto tersebut kondisinya berserakan, warnanya sudah kuning, padahal produsen negatif filmnya selalu beriklan 'awet sampai 100 tahun'. Melihat sekilas, ini adalah peninggalan berharga karena pada suatu masa, kami pernah menjadi keluarga bahagia.

Tapi ya... karena begitu banyak, belum-belum sudah malas. Jadi aku hanya sekedar mencari tempat yang bisa memuat kembali buntalan-buntalan tersebut.

Hari-hari selanjutnya, aku jadi seperti diikuti ini :


Sebenarnya sih karena kebetulan Coming Soon. Ngeliat posternya sih gak terlalu tertarik karena aku bukan fans Alice in Wonderland. Sebenarnya gak ada hubungannya dengan Alice. Cuma kebetulan aku cukup pusing dengan jalan cerita 'alternative' film Alice, jadi gak mau ikut terbawa pusing di film ini. Karena kebetulan sutradaranya sama-sama Tim Burton.

Sampai akhirnya Now Showing di XXI tetap aja poster ini jadi sekelebatan yang sering di sudut mata, melebihi poster-poster film lain. Tetap aja aku gak tonton, hehehe...

Tidak lama di Gramedia, aku (sekali lagi) gak sengaja lihat terjemahan Indonesianya sudah ada. Ih, sampul bukunya kok seram. Ini sebenarnya cerita tentang apa sih? Cukup sampai disitu.

Ketika kembali lagi ke Gramedia (begitu Abang transfer belanja bulanan, nomor satu ke toko buku..), aku kembali lihat buku ini. Kali ini segel plastiknya sudah terbuka, jadi aku bisa buka isinya.

Foto-foto
Foto-foto tua...
Foto-foto tua, aneh, seram..

dan sampai pada penjelasan Ransom Riggs pengarangnya : bila foto-foto ini tidak bisa bercerita, biarkan aku yang membuatkan ceritanya.

Jleb! Mami....

Miss Peregrine's Home for Pecualiar Children pada dasarnya berkisah tentang upaya bertahan hidup mahluk ciptaan Allah yang disebut Peculiar. Peculiar biasanya kita temukan sebagai bagian dari atraksi Circus. Seperti... Ho ho ho! Saksikanlah Manusia (berwajah) Gajah! Hanya 1 dollar! 

Sampai akhirnya sebagian dari mereka, disebut Ymbrine, berinisiatif untuk menyelamatkan anak-anak ini dari eksploitasi manusia dengan menempatkan mereka di suatu tempat. Mereka nyaman dan bahagia disana, tapi ternyata ini tidak cukup untuk sebagian Peculiar lain..

Buku ini memiliki makna lebih dalam dari sekedar kisah petualangan young adult. 

Sampai akhirnya aku tonton juga filmnya, aku rekomendasikan, lihatlah keduanya : Buku dan Filmnya. Karena memang saling melengkapi.

Di film, Jacob, tokoh utamanya, digambarkan sebagai remaja yang bete tanpa sebab, Di bukunya, dia bukan sekedar mahluk bete. Dia nyinyir dalam menanggapi hidup. Nyinyir yang bisa membuat kita cengar-cengir membaca bab awal buku ini. Untuk Jacob, bahasa halusnya mungkin bukan nyinyir tapi idealis. Sikap idealis ini ternyata bisa bikin ruwet bila kita terlahir dari salah satu keluarga terkaya di Florida. Gak mudah ternyata jadi teenager yah.

Dan ketika, wasiat terakhir yang terucap sebelum kematian tragis merengut nyawa Abe, kakek Jacob, mengharuskan Jacob pergi meninggalkan Florida yang panas dan kering ke sebuah pulau terpencil - Cairnholm - yang dingin dan basah di Wales, Inggris. Sebuah pulau yang kehidupannya tampak tidak beranjak dari pertengahan abad 20, normal ataupun paralelnya.

Yah... buku ini juga berkisah tentang keberadaan dunia paralel. Kitab-kitab suci sudah menggambarkan tentang keberadaan dunia paralel, tempat Malaikat, Jin dan Setan bersemayam. Buku ini juga menggambarkan tentang perjalanan waktu. Suatu yang menjadi impian semua petualang pemberani.

Untuk latar belakang, mengapa bisa begini, mengapa begitu, buku sangat jelas menggambarkan, Seperti apa seorang Jacob dan Abe. Kekhawatiran mendalam dari Miss Peregrine. Dan rasanya memendam rindu puluhan tahun dari seorang gadis belasan tahun bernama Emma (lho kok bisa?). Kematian tragis Abe, juga digambarkan lebih dramatis di buku.

Tapi untuk penjelasan teknis, film sangat mempermudah kita memahami. Terus terang bukunya mutar-mutar menjelaskan malapetaka yang menimpa para Peculiar. Tapi di film, TING! O... begono toh maksute....

Imaginasi sutradara Tim Burton juga merubah beberapa bagian di buku. Ada yang jadi lebih halus, karena di buku memang bisa seram kalau harus divisualisasikan, seperti kebangkitan mayat hidup oleh Enoch, salah satu Peculiar. Tapi ada juga yang dibuat jadi lebih seru. Anak kembar putih ini, ternyata punya kemampuan menakjubkan - atau menyeramkan? - dibalik tubuh yang selalu terbungkus, dan cuma ada di film!



Akhir film ini tidak disangka-sangka bagi yang sudah baca bukunya duluan. Sementara ending dibukunya juga memberikan hal yang tidak disangka-sangka bagi yang nonton filmnya duluan. Terutama untuk pembaca yang juga seorang ibu seperti saya.  Bila saya menjadi mata dari Emma, Olivia, Enoch, Millard, Bronwyn dan Jacob... huhhh... I really don't know what to do, melihat kenyataan yang harus mereka hadapi ke depan. Ini kisah untuk seri ke 2 dan ke 3, semoga Gramedia mau menerbitkan.

Ngomong2 soal Gramedia, penterjemah buku ini sudah memasukkan beberapa kosa kata baru bahasa Indonesia yang saya baru baca sekarang. Misalnya untuk kata time loop portal cave, diterjemahkan menjadi 'celuk' di buku. Baru dengar juga 'kan? Dan aku juga baru tau kalau kata baru untuk 'menyuruh pergi atau menyuruh meninggalkan tempat' adalah 'menggusah'.

Hal terakhir (karena memang ditempatkan di halaman terakhir) yang keren dari buku ini adalah bab 'Obrolan dengan Ransom Riggs' pengarang buku ini. Asal mula kenapa buku ini ada, dan referensinya tentang buku-buku karya pengarang lain, yang membuatku ingin membaca juga buku yang dia rekomendasikan. Juga tentang semangat persamaan. Riggs dan Rowlings (pengarang Harry Potter) memiliki semangat yang sama : kita hidup di dunia ini berbagi kavling, dengan sesama mahluk lain baik yang halus maupun kasar, dengan berbagai warna kulit dan bentuk fisik. Jadi menempatkan diri sebagai yang paling keren, paling layak, dan paling-paling lainnya, benar-benar paling gak asyik.

Riggs juga memberikan gambaran, bahwa betapapun mahalnya ongkos membuat foto pada masa lalu, - tau 'kan gambaran tentang alat foto yang berat, meledak dan berasap saat dipakai? - tidak menyurutkan semangat eksplorasi pada fotografer tempo dulu, Foto-foto yang ada dalam buku ini, dipercaya sebagai bahan ujicoba para fotografer nyeleneh tersebut.

 


Sayangnya foto-foto unik ini tidak memiliki 'rumah', tidak ada tempat, waktu, nama dan peristiwa. Riggs ditakdirkan untuk membangun rumah bagi foto-foto ini. Yang membuatku harus punya tekad merapikan buntalan foto-foto lama milik keluarga dan memberikan rumah bagi mereka. Mencatatkan tempat, waktu, nama dan peristiwa. Agar leluhur tidak hanya hidup dalam doa.

Ayah, Ibu, Aku dan Adik, 1969-1979
Ayahku meninggalkan beberapa photoselfie yang dibuat dengan bantuan cermin

--000--

Nb. 
Setelah penerbitan buku dan filmnya, cukup banyak website yang membahas tentang buku dan film ini. Bahkan ada buku yang khusus membahas tentang Art in Miss Peregrine's..

Salah satu website yang saya suka adalah Atlas of Wonders edisi Miss Peregrine's yang berkisah latar belakang set lokasi untuk film ini. Pulau Cairnholm di Wales (benarkah ada?) dan upaya pencarian villa tempat tinggal anak-anak Peculiar berdasarkan imaginasi seorang Ransom Riggs.

Karena buku dan filmnya sebagian mengambil set kehidupan di Inggris tahun 1940an, saat terjadinya Perang Dunia II, menonton kembali Miss Peregrine bisa dijadikan pemanasan saat film Dunkirk nanti diputar pertengahan 2017. Dunkirk? 1Directioners pasti gak sabar menunggu film ini. Dunkirk Trailer with Harry!