Kamis, 04 Mei 2017

LOOKING FOR ALASKA


Ransom Riggs di lampiran Miss Peregrines's berkata bahwa John Green adalah salah satu novelis favoritnya. Karya John Green yang saya sudah lihat adalah versi film The Fault in Our Stars dan Paper Towns, untuk buku yang saya baca adalah buku pertama Green : Looking for Alaska. Tahun 2016 buku ini masuk nomor urut ke 4 di New York Times Best Seller kategorI Young Adult paperback.

Sepanjang Youtube saya hanya temukan Alaska by Fanmade. Mungkin bukan karena bukunya buruk sampai belum di buat filmnya, padahal Paramount Pictures sudah pegang hak film-nya. Sulit, lebih pas, terutama terkait casting. Masuk kategori Reality Novel, Looking for Alaska benar-benar membuat saya harus terima realita, bahwa anak-anak bisa jadi hanya berwujud malaikat di depan kita. Selama mereka tidak melakukan tindakan yang ada dalam pasal-pasal KUHP, saya mencoba menenangkan diri untuk tidak terlalu khawatir, kita juga dulu gak alim-alim banget. Tapi bila berkembang menjadi yang penting selama tidak ketahuan? Welcome to the group of paranoid parents!

Cara Green menyajikan Alaska termasuk baru menurut saya. Biasanya novel dialirkan dari awal sampai akhir. Alaska disajikan dari awal ke tengah - lengkap dengan countdown-nya. Sehingga kita terus mengira-ngira what will happen in the D-day? Setelah terjadi, sesak di dada terus dibayangi oleh quote sang tokoh utama Alaska Young :

"How can we get out from this labyrinth of suffering"
dari The General in His Labirynth - Gabriel Garcia Marques - biografi Simon Bolivar

Alaska berisi banyak quote yang dalam, penuh pemikiran. Anak-anak tokoh utama di buku ini digambarkan sebagai pengacau sekaligus filsuf. Jiwa muda mereka labil antara anugrah kepintaran otak di satu sisi dan kegelisahan pemberontak di sisi lain. Di tengah-tengah, mereka seperti terus mempertanyakan arti hidup dan kehidupan.


Buku ini dibuka dengan kegelisahan seorang Miles Halter. Anak pintar kelas 3 SMA sebuah sekolah negeri. Sekolah negeri digambarkan sangat hitam putih, anak-anak pintar masuk golongan anak baik-baik culun, anak-anak tidak pintar masuk golongan grup ngetop. Miles merasakan ketidaknyamanan ini dan meminta pindah ke sebuah sekolah SMA elit berasrama. Realita yang jarang saya baca, karena penulis lain biasanya justru memindahkan tokohnya dari Sekolah Swasta ke Sekolah Negeri dengan alasana idealisme kebebasan dan persamaan.


I Go to Seek a Great Perhaps adalah alasan pindah ke Culver Creek, sekolah swasta elit berasrama. Tidak mudah masuk sekolah ini, Terlanjur masuk dalam golongan culun di sekolah negeri, membuat Miles berusaha mencari 'terobosan' dan semangat - berharap bisa menemukan 'kemungkinan-kemungkinan luar biasa' yang bisa mengubah hidup, tidak peduli dia hanya tinggal 1 tahun menuju bangku kuliah. Bila kita orangtua yang cukup mampu membiayai, saya rasa tidak ada salahnya memberikan dukungan bila anak kita tiba-tiba terpengaruh cara pandang Miles.

Di Culver Creek, Miles sekamar dengan Chip Martin, anak miskin penerima beasiswa full, yang mengenalkannya dengan Takumi Hikohito, Alaska Young dan Lara Buterskaya. Di mulailah jalan hidup yang berbeda dari Miles. Ketika sekelilingnya adalah mayoritas anak-anak kaya dengan otak encer dan punya kesadaram untuk lulus terbaik, dia bisa memilih 'ekstra kurikuler' badung dan jahil - tanpa harus terbelenggu stereotip pintar-culun vs bodoh-gaul.

Di lembar-lembar pertama berkenalan dengan Chip, saya terenyuh dengan ceritanya berusaha mendapatkan beasiswa dari Culver Creek. Dalam surat lamarannya, dia menulis "Aku senang membaca, tapi hanya bisa tersedia buku-buku tipis di rumah."

Chip adalah korban KDRT ayahnya yang pemabuk. Selain rongrongan suara orangtua yang bertengkar, saya jadi jadi berpikir pantas saja anak-anak korban KDRT mengalami kesulitan belajar. Di rumah mereka hanya dimungkinkan tersedia buku tulis. Karena buku-buku tebal - bahkan kamus sekalipun - bisa jadi alat berbahaya bila ayah yang pemarah mulai melampiaskan kemarahannya melalui buku-buku yang bertebangan dan dipakai menghantam.

Yang saya kagumi dari anak-anak Culver Creek, mereka digambarkan senang membaca. Taburan quote di buku ini berasal dari perkataan tokoh-tokoh yang mereka baca bukunya. Alaska Young yang digambarkan badung habis, bahkan punya perpustakaan di kamar asramanya.

Miles sendiri memiliki interest khusus terhadap ucapan terakhir terhadap tokoh-tokoh terkenal yang dia baca biografinya (kalo ketemu Miles, silakan tanya kata terakhir dari sembarang tokoh, dia pasti bisa jawab :)). Ucapan terakhir sesesorang terkadang merupakan rangkuman dari flashback selama hidup, tapi bisa juga tidak ada hubungan sama sekali bahkan cenderung konyol. Seperti Tuhan sedang sedikit bergurau dengan mahlukNya. 

Saat membaca biografi, saya lebih fokus pada inti hidup tokoh yang saya baca, sama sekali tidak terpikir mengenai kata terakhir yang diucap sebelum nafas terakhir. Tapi mengingat ini, bisa membuat saya frustasi sendiri. Berhubung saya tidak diberi kesempatan mendengar ucapan terakhir kedua almarhum orangtua.

Alaska Young, yang disampul belakang buku digambarkan sebagai tokoh yang membuat hidup seorang Miles Halter tidak sama lagi setelah mengenalnya, bukan tokoh yang sederhana. Di satu sisi dunia melihatnya sebagai gadis super asyik, pembawa keceriaan di sekolah. Di sisi lain - ini clue untuk pembaca - kita harus hati-hati, memahami setiap perkataan penuh selubung Alaska. Hati-hati memahami bukan berarti pelan-pelan. Saya seperti berada di posisi Miles ketika tidak bisa cepat memahami seorang Alaska. Keceriaannya menipu saya untuk cepat menyadari - sebelum terlambat.
Bila buku ini jadi dibuat filmnya, perlu aktris muda pemain watak untuk menampilkan 'sesuatu yang tersembunyi' dari Alaska, bukan sekedar gaya badung, mabuk, merokok,  penyuka seks *)  dan jahilnya. Bahkan saya penasaran, siapa nanti yang bisa pas memerankan 'tatapan satu kilometer' Alaska.

Takumi? Takumi tokoh non sentral yang menjadi sentral di waktu yang tepat. Untuk suatu hal, saya merasa seperti Takumi : kerap melarikan diri untuk melenyapkan hantu rasa bersalah tanpa menyadari bahwa takdirlah yang membuat kita seperti tanpa daya di saat yang seharusnya kita bisa begitu powerful.

Culver Creek? Guru-guru? Kelas? Saya tidak menduga John Green akan menyajikan kelas perbandingan agama sebagai kelas favorit tokoh-tokoh utama buku ini. Dr Hyde, guru kelas tersebut yang digambarkan sebagai sosok yang 'tinggal mati besok' telah menjelaskan pelajaran semester ini : memahami Islam, Kristen dan Budha - sama rata, masing-masing sama humanisnya, sama-sama bisa dipahami sehingga tidak ada dasar untuk merasa paling superior.

Tak kenal maka tak sayang. Mencoba memahami agama lain bukan berarti harus berpindah keyakinan, hanya sekedar memberi rasa nyaman bila di dunia ini kita menyadari bahwa hidup memang sudah ditakdirkan untuk berbagi kavling.

Membaca buku ini, memberikan banyak hal untuk saya - sebagai seorang ibu - pikirkan. Selain hal-hal di atas, saya juga tersentak bahwa ucapan singkat tanpa maksud pada suatu momen yang buruk, mungkin bisa berdampak dalam.. jauh membekas bagi 'tertuduh'. Sekarang saya sedang berusaha membuka komunikasi dengan anak-anak, perkataan apa dari saya yang kira-kira jadi pikiran dalam buat mereka. Yeah, before too late.

Ucapan terakhir dari buku terakhir yang dibaca Alaska, juga membuat pikiran tersendiri. "How can we get out from this labyrinth of suffering?" adalah kalimat tanya. Terus terang sampai lembar terakhir saya tidak menemukan jawabannya yang pas - mungkin karena saya mencampur adukkan dengan pikiran untuk tujuan apa Tuhan menciptakan seorang Saya pada saat ini.

Justru bukan lewat buku, John Green memberikan bocoran atas pertanyaan tersebut, yang mungkin bisa menyelamatkan kita dari putaran rasa bersalah, rasa marah tak berujung :


Huhh... mengapa jadi banyak pikiran mumet yah, bagaimanapun tokoh-tokoh di buku ini adalah anak SMA, yang sesusah-susahnya hidup, mereka masih bisa tertawa dan mengeluarkan humor-humor konyol. Selamat ketawa, mikir, ketawa, mikir lagi...

Ada satu quote bagus dari Dr Hyde, yang bisa saya pakai untuk ngadalin anak saya seandainya mereka mulai belagu nanti (jangan sampe...) : "Saya tahu kalian adalah anak-anak pintar. Tapi saya sudah lebih lama pintar dari kalian." 
Skakk!! :)

*) Alaska terbit pertama kali tahun 2005, mendapat kritik terutama dari himpunan guru, terkait materi sex yang dikatakan disampaikan terlalu eksplisit. John Green sendiri bertahan terhadap segala kritik. Dia pasti pikir hey this is a kind of reality novel and I give you reality.  Saya belum baca versi Inggris-nya Alaska, tapi tahun 2000an awal sedang booming novel Young Adult terutama dengan tema vampir, werewolf, dan mahluk jadi-jadian lainnya, yang isinya cuek menggambarkan sex di kalangan remaja - dan saya tidak lihat ada banyak protes di sana dibanding yang diterima Alaska. Ya, sudah,.... itu cerita di negeri jauh, kita di Indonesia, dan Gramedia sepertinya cukup memahami kearifan lokal sehingga menterjemahkan adegan yang dikritik oleh para guru disana - dengan halus dan baik-baik saja, menurut sayyahh. Eit, jangan karena ada 'sensor bahasa' jadi malas baca bukunya yah. Buku ini bisa membuat seorang ibu dengan anak berangkat remaja seperti saya - berpikir cukup banyak tentang makna hidup dan enaknya harus gimana sih hidup ini. I don't know the impact if it's been read by young adult as the target. I hope it should to be good.


 --000--


  

Selasa, 25 April 2017

Miss Peregrine's Home for Peculiar Children



Kamu yang suka buku, pernahkah merasakan bahwa suatu buku seperti harus 'bertemu' dengan kita, buku itu ada karena ada tugas dunia yang harus kita selesaikan?

Inilah yang aku pikir tentang Miss Peregrine's Home for Peculiar Children - Rumah Miss Peregrine untuk Anak-Anak Aneh

Bermula ketika aku menemukan buntalan, eh, tumpukan, eh... apapun deh yang jelas itu bulat diikat-ikat yang ternyata isinya kumpulan foto-foto lama keluarga. Foto-foto tersebut kondisinya berserakan, warnanya sudah kuning, padahal produsen negatif filmnya selalu beriklan 'awet sampai 100 tahun'. Melihat sekilas, ini adalah peninggalan berharga karena pada suatu masa, kami pernah menjadi keluarga bahagia.

Tapi ya... karena begitu banyak, belum-belum sudah malas. Jadi aku hanya sekedar mencari tempat yang bisa memuat kembali buntalan-buntalan tersebut.

Hari-hari selanjutnya, aku jadi seperti diikuti ini :


Sebenarnya sih karena kebetulan Coming Soon. Ngeliat posternya sih gak terlalu tertarik karena aku bukan fans Alice in Wonderland. Sebenarnya gak ada hubungannya dengan Alice. Cuma kebetulan aku cukup pusing dengan jalan cerita 'alternative' film Alice, jadi gak mau ikut terbawa pusing di film ini. Karena kebetulan sutradaranya sama-sama Tim Burton.

Sampai akhirnya Now Showing di XXI tetap aja poster ini jadi sekelebatan yang sering di sudut mata, melebihi poster-poster film lain. Tetap aja aku gak tonton, hehehe...

Tidak lama di Gramedia, aku (sekali lagi) gak sengaja lihat terjemahan Indonesianya sudah ada. Ih, sampul bukunya kok seram. Ini sebenarnya cerita tentang apa sih? Cukup sampai disitu.

Ketika kembali lagi ke Gramedia (begitu Abang transfer belanja bulanan, nomor satu ke toko buku..), aku kembali lihat buku ini. Kali ini segel plastiknya sudah terbuka, jadi aku bisa buka isinya.

Foto-foto
Foto-foto tua...
Foto-foto tua, aneh, seram..

dan sampai pada penjelasan Ransom Riggs pengarangnya : bila foto-foto ini tidak bisa bercerita, biarkan aku yang membuatkan ceritanya.

Jleb! Mami....

Miss Peregrine's Home for Pecualiar Children pada dasarnya berkisah tentang upaya bertahan hidup mahluk ciptaan Allah yang disebut Peculiar. Peculiar biasanya kita temukan sebagai bagian dari atraksi Circus. Seperti... Ho ho ho! Saksikanlah Manusia (berwajah) Gajah! Hanya 1 dollar! 

Sampai akhirnya sebagian dari mereka, disebut Ymbrine, berinisiatif untuk menyelamatkan anak-anak ini dari eksploitasi manusia dengan menempatkan mereka di suatu tempat. Mereka nyaman dan bahagia disana, tapi ternyata ini tidak cukup untuk sebagian Peculiar lain..

Buku ini memiliki makna lebih dalam dari sekedar kisah petualangan young adult. 

Sampai akhirnya aku tonton juga filmnya, aku rekomendasikan, lihatlah keduanya : Buku dan Filmnya. Karena memang saling melengkapi.

Di film, Jacob, tokoh utamanya, digambarkan sebagai remaja yang bete tanpa sebab, Di bukunya, dia bukan sekedar mahluk bete. Dia nyinyir dalam menanggapi hidup. Nyinyir yang bisa membuat kita cengar-cengir membaca bab awal buku ini. Untuk Jacob, bahasa halusnya mungkin bukan nyinyir tapi idealis. Sikap idealis ini ternyata bisa bikin ruwet bila kita terlahir dari salah satu keluarga terkaya di Florida. Gak mudah ternyata jadi teenager yah.

Dan ketika, wasiat terakhir yang terucap sebelum kematian tragis merengut nyawa Abe, kakek Jacob, mengharuskan Jacob pergi meninggalkan Florida yang panas dan kering ke sebuah pulau terpencil - Cairnholm - yang dingin dan basah di Wales, Inggris. Sebuah pulau yang kehidupannya tampak tidak beranjak dari pertengahan abad 20, normal ataupun paralelnya.

Yah... buku ini juga berkisah tentang keberadaan dunia paralel. Kitab-kitab suci sudah menggambarkan tentang keberadaan dunia paralel, tempat Malaikat, Jin dan Setan bersemayam. Buku ini juga menggambarkan tentang perjalanan waktu. Suatu yang menjadi impian semua petualang pemberani.

Untuk latar belakang, mengapa bisa begini, mengapa begitu, buku sangat jelas menggambarkan, Seperti apa seorang Jacob dan Abe. Kekhawatiran mendalam dari Miss Peregrine. Dan rasanya memendam rindu puluhan tahun dari seorang gadis belasan tahun bernama Emma (lho kok bisa?). Kematian tragis Abe, juga digambarkan lebih dramatis di buku.

Tapi untuk penjelasan teknis, film sangat mempermudah kita memahami. Terus terang bukunya mutar-mutar menjelaskan malapetaka yang menimpa para Peculiar. Tapi di film, TING! O... begono toh maksute....

Imaginasi sutradara Tim Burton juga merubah beberapa bagian di buku. Ada yang jadi lebih halus, karena di buku memang bisa seram kalau harus divisualisasikan, seperti kebangkitan mayat hidup oleh Enoch, salah satu Peculiar. Tapi ada juga yang dibuat jadi lebih seru. Anak kembar putih ini, ternyata punya kemampuan menakjubkan - atau menyeramkan? - dibalik tubuh yang selalu terbungkus, dan cuma ada di film!



Akhir film ini tidak disangka-sangka bagi yang sudah baca bukunya duluan. Sementara ending dibukunya juga memberikan hal yang tidak disangka-sangka bagi yang nonton filmnya duluan. Terutama untuk pembaca yang juga seorang ibu seperti saya.  Bila saya menjadi mata dari Emma, Olivia, Enoch, Millard, Bronwyn dan Jacob... huhhh... I really don't know what to do, melihat kenyataan yang harus mereka hadapi ke depan. Ini kisah untuk seri ke 2 dan ke 3, semoga Gramedia mau menerbitkan.

Ngomong2 soal Gramedia, penterjemah buku ini sudah memasukkan beberapa kosa kata baru bahasa Indonesia yang saya baru baca sekarang. Misalnya untuk kata time loop portal cave, diterjemahkan menjadi 'celuk' di buku. Baru dengar juga 'kan? Dan aku juga baru tau kalau kata baru untuk 'menyuruh pergi atau menyuruh meninggalkan tempat' adalah 'menggusah'.

Hal terakhir (karena memang ditempatkan di halaman terakhir) yang keren dari buku ini adalah bab 'Obrolan dengan Ransom Riggs' pengarang buku ini. Asal mula kenapa buku ini ada, dan referensinya tentang buku-buku karya pengarang lain, yang membuatku ingin membaca juga buku yang dia rekomendasikan. Juga tentang semangat persamaan. Riggs dan Rowlings (pengarang Harry Potter) memiliki semangat yang sama : kita hidup di dunia ini berbagi kavling, dengan sesama mahluk lain baik yang halus maupun kasar, dengan berbagai warna kulit dan bentuk fisik. Jadi menempatkan diri sebagai yang paling keren, paling layak, dan paling-paling lainnya, benar-benar paling gak asyik.

Riggs juga memberikan gambaran, bahwa betapapun mahalnya ongkos membuat foto pada masa lalu, - tau 'kan gambaran tentang alat foto yang berat, meledak dan berasap saat dipakai? - tidak menyurutkan semangat eksplorasi pada fotografer tempo dulu, Foto-foto yang ada dalam buku ini, dipercaya sebagai bahan ujicoba para fotografer nyeleneh tersebut.

 


Sayangnya foto-foto unik ini tidak memiliki 'rumah', tidak ada tempat, waktu, nama dan peristiwa. Riggs ditakdirkan untuk membangun rumah bagi foto-foto ini. Yang membuatku harus punya tekad merapikan buntalan foto-foto lama milik keluarga dan memberikan rumah bagi mereka. Mencatatkan tempat, waktu, nama dan peristiwa. Agar leluhur tidak hanya hidup dalam doa.

Ayah, Ibu, Aku dan Adik, 1969-1979
Ayahku meninggalkan beberapa photoselfie yang dibuat dengan bantuan cermin

--000--

Nb. 
Setelah penerbitan buku dan filmnya, cukup banyak website yang membahas tentang buku dan film ini. Bahkan ada buku yang khusus membahas tentang Art in Miss Peregrine's..

Salah satu website yang saya suka adalah Atlas of Wonders edisi Miss Peregrine's yang berkisah latar belakang set lokasi untuk film ini. Pulau Cairnholm di Wales (benarkah ada?) dan upaya pencarian villa tempat tinggal anak-anak Peculiar berdasarkan imaginasi seorang Ransom Riggs.

Karena buku dan filmnya sebagian mengambil set kehidupan di Inggris tahun 1940an, saat terjadinya Perang Dunia II, menonton kembali Miss Peregrine bisa dijadikan pemanasan saat film Dunkirk nanti diputar pertengahan 2017. Dunkirk? 1Directioners pasti gak sabar menunggu film ini. Dunkirk Trailer with Harry!